Tag Archives: listrik

Presiden RI Mengunjungi PLTS Daruba

Untitled-1RZ – ESDM

Rabu, 06/04/2016 11:10 WIB

MOROTAI – Presiden RI Joko Widodo didampingi Menteri ESDM Sudirman Said, hari Rabu, (6/4) meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Daruba di Desa Juanga, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara.

Dari hasil peninjauan, diketahui bahwa sistem otomatis PLTS Daruba yang berkapasitas 600 KW mengalami mengalami kendala, sehingga harus dioperasikan secara manual. Selain itu, jumlah petugas yang menangani PLTS Daruba juga terbatas.

Presiden mengingatkan perlunya menambah sumber daya manusia (SDM) agar PLTS Daruba dapat beroperasi dengan baik. “Sebesar ini yang menangani hanya satu orang. Peralatan sebesar dan sebanyak itu, hanya satu orang (yang menangani)”, ujar Presiden.

Sementara itu, Menteri ESDM, Sudirman Said menjelaskan bahwa pulau-pulau terluar seperti Morotai dan banyak pulau lainnya harus dibuat standar yang berbeda dari pulau-pulau besar. “Kemarin Bapak Presiden mengingatkan supaya aspek pemeliharaan diperhatikan. Saya kira daerah-daerah yang agak remote, seperti morotai dan banyak lagi lainnya, harus dibuat standar yang berbeda dari pulau besar. Harus ada mitra yang bisa diajak diskusi, tidak bisa dengan standar umum. Ditambah orangnya”, jelas Sudirman.

Walaupun jumlah masyarakat yang dilayani tidak besar, ungkap Sudirman, namun saat terjadi permasalahan, letak yang jauh akan menjadi kendala tersendiri sehingga tidak bisa langsung ditangani. “Karena jarak, ketika ada informasi mengenai kebutuhan pemeliharaan pasti tidak bisa langsung direspon. Aspek persediaan suku cadang dan regular checking menjadi aspek yang penting. Bisa dipahami mengapa Presiden menekankan pentingnya aspek pemeliharaan, terutama daerah terpencil seperti (morotai) ini”, lanjut Sudirman.

Terkait jumlah SDM dan teknisi yang minim di daerah terluar seperti Morotai, Sudirman menjelaskan bahwa ke depan pembangkit seperti di Daruba ini akan banyak dibangun, sehingga perlu menggandeng perguruan tinggi untuk membantu menyelesaikan kendala yang ada. “PLN pasti punya sistem, punya outsource, penyedia jasa. Tapi betul, menjadi program kita untuk melatih dan memperbanyak SDM yang memahami pemeliharaan. Ini akan masif, dibangun dimana-mana. Sudah waktunya kita bicara dengan kampus setempat untuk mendidik teknisi-teknisi supaya tenaga pemeliharaan makin banyak”, tutup Sudirman.

Sumber: www.esdm.go.id

Program 35.000 MW, Pemerintah akan Bangun 8.800 MW Dari EBT

SF – ESDM

Selasa, 05/04/2016 23:43 WIB

phpThumb_generated_thumbnail (1)MOROTAI – Sudah merupakan komitmen pemerintah untuk menghindari pemakaian bahan bakar minyak (BBM) sebagai bahan bakar pembangkit. Program 35.000 MW yang saat ini sedang bergulir ditargetkan sebesar 8.800 MW dihasilkan dari energi baru terbarukan.

“Pemerintah telah berkomitmen dan sedang merealisasikan penyediaan listrik sebesar 35 ribu Megawatt (MW). 25% dari target tersebut, atau sekitar 8.800 MW, diupayakan dari energi terbarukan,” ujar Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said dalam laporannya di acara Peresmian Proyek Infrastruktur Energi Baru Terbarukan di Wilayah Timur Indonesia, Selasa (5/4).

8.800 MW pembangkit listrik energi terbarukan tersebut akan berasal dari energi surya sebasar 4.000MW, energi bio, termasuk energi sampah, sebesar 1.000MW, energi panas bumi sebesar 1.500MW, energi air sebesar 1.800 MW, dan energi angin sebesar 500MW, lanjut Sudirman.

Sudirman menjelaskan, pemanfaatan ebt untuk melengkapi secara signifikan program 35.000MW akan dilakukan melalui tiga pendekatan khusus yakni, mempercepat diversifikasi energi menuju pencapaian target bauran energi 23% dari energi baru terbarukan pada 2025, melakukan konversi dari pembangkit listrik tenaga diesel menjadi energi terbarukan, dan yang terakhir, membangun tambahan terhadap pembangkit listrik yang sudah ada termasuk mempercepat pembangun kelistrikan dipulau-pulau, daerah terluar dan terisolasi.

Penyediaan listrik di pedesaan menjadi tantangan karena letak geografis beberapa desa tertinggal yang jauh dan terpencil. Salah satu cara untuk menghadirkan listrik bagi desa-desa tersebut adalah dengan memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan lokal, seperti energi surya, air, angin, biomassa, ataupun arus laut. Dengan memanfaatkan energi setempat, pembangunan pembangkit dan transmisi listrik dapat dibangun secara lokal (off-grid), berbasis desa atau pulau, sehingga mampu menggerakkan masyarakat secara mandiri dalam menyiapkan energi bagi desanya.

Sumber: www.esdm.go.id

Kementerian ESDM Akan Segera Manfaatkan Panel Surya

095423800_1456912771-20160302-Panel-Surya-ESDM-Jakarta--Gempur-M-Surya-01

Gempur M Surya – Liputan6

Rabu, 2/3/2016

Jakarta, Seorang petugas memeriksa panel surya di kantor Kementrian ESDM. Dalam APBN 2016, Kementerian ESDM mengalokasikan dana sebesar Rp 1,4 triliun untuk pengembangan aneka energi terbarukan. Manfaat pengunaan panel surya untuk industri dapat menghemat energi serta biaya ketika puncak beban listrik tinggi di siang hari. Penggunaan panel surya bisa menurunkan emisi dari yang sebelumnya mengonsumsi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel atau berbasis batubara . Kementerian ESDM akan memasang panel surya di atap Istana Negara, kantor-kantor pemerintahan, bandara, hingga Lembaga Pemasyarakatan (LP) .

Sumber: www.liputan6.com

Dukung Pemerintah, Kelompok Ini Ramai-ramai Pasang Panel Surya di Atap Rumah

Dana Aditiasari – detikfinance
Selasa, 02/02/2016 07:28 WIB

Jakarta -Mendukung upaya pemerintah mencapai kemandirian energi bisa dilakukan lewat berbagai cara. Salah satunya dilakukan sekelompok masyarakat yang menamakan dirinya Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPSLA).

Perkumpulan ini memasang Listrik Surya Atap atau listrik tenaga matahari dengan panel yang ditempatkan di atap rumah mereka masing-masing.

“Pemakaian listrik surya atap ini menjadi bagian dari dukungan usaha mencapai kemandirian energi listrik,” ujar salah satu anggota perkumpulan, Nur Pamudji saat dihubungi detikFinance, Senin (1/2/2016).

Nur Pamudji mengisahkan, perkumpulan ini pertama kali dibentuk sekitar Oktober 2015 lalu. Ia dan beberapa orang teman memulai ide tersebut dengan harapan bisa berkontribusi pada pembangunan negara, dalam hal ini penyediaan listrik.

“Waktu itu saya dan beberapa teman ngobrol lalu bentuk grup whatsapp, apa yang bisa kita lakukan nih. Kemudian ada ide untuk pasang panel surya. Ternyata Pak Bambang (Bambang Sumaryo) yang sekarang jadi ketua perkumpulan, sudah pakai panel surya sejak satu tahun terakhir,” tutur dia.

Berangkat dari sinilah, perkumpulan ini kian serius menjalankan usahanya yang pada akhirnya mendapat dukungan dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM).

Pada Minggu 31 Januari 2016, Menteri ESDM Sudirman Said meresmikan perkumpulan ini sebagai pencetus sosialisasi penggunaan listrik surya atap di tanah air.

“Harapannya semakin banyak orang yang pasang. Semakin banyak juga listrik PLN bisa dihemat,” pungkas dia.

 

Sumber : Detik.com

RI Punya ‘Harta Karun’ Energi 810.000 MW, Baru Dimanfaatkan 1,1%

715c7a14-80af-469e-8111-a9a6f2382771_169

Michael Agustinus – detikfinance
Senin, 15/02/2016 07:15 WIB

Jakarta -Indonesia sangat kaya dengan energi terbarukan di luar energi fosil. Dari dalam bumi, di atas tanah, laut, udara, hingga matahari di langit, semuanya menyimpan ‘harta karun’ energi yang terbarukan, tidak akan habis sepanjang masa.

Menurut perhitungan Kementerian ESDM yang diperoleh detikFinance, total potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia mencapai 810.000 megawatt (MW), tersebar di dalam bumi hingga di atas langit.

Di dalam bumi, Indonesia memiliki potensi energi panas bumi sebesar 29.000 MW. Dari total potensi itu, kapasitas terpasang listrik dari panas bumi baru 1.440 MW atau 5% saja.

Di atas tanah, Indonesia punya harta karun bioenergi sebesar 34.000 MW. Pemanfaatannya sejauh ini baru 1.740 MW atau 5,1%.

Di perairan darat seperti sungai besar, sungai kecil, air terjun ada potensi energi hydro (air) 19.000 MW. Baru 5.250 MW energi hydro saja yang sudah dimanfaatkan.

Kemudian di laut, Indonesia memiliki potensi energi laut hingga 61.000 MW. Baru 0,28 MW atau 0,0005% saja yang dimanfaatkan.

Di udara, ada potensi energi angin yang mencapai 107.000 MW. Saat ini Indonesia baru membuat pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) 3,61 MW alias cuma 0,0034% dari total potensi energi angin.

Lalu dari sinar matahari yang ada sepanjang tahun karena Indonesia tak mengalami musim dingin, ada harta karun sebesar 560.000 MWp. Sejauh ini kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru 70 MWp.

Bila dihitung-hitung, total penggunaan energi terbarukan di Indonesia baru 8.780 MW atau 1,1% dari total potensi sebesar 810.000 MW. Pemanfaatan energi terbarukan belum optimal.

Sementara cadangan energi fosil Indonesia semakin menipis. Cadangan terbukti minyak bumi hanya 3,6 miliar barel, bakal habis dalam 13 tahun lagi dengan asumsi produksi 288 juta barel per tahun. Cadangan terbukti gas bumi saat ini 100,3 TSCF, hanya akan bertahan sampai kurang lebih 34 tahun lagi dengan asumsi produksi 2,97 TSCF per tahun.

Karena itu, harta karun energi terbarukan harus segera dioptimalkan untuk menggantikan energi fosil. Bila terus bergantung pada energi fosil, Indonesia bakal mengalami krisis energi dalam waktu 2-3 dekade mendatang.

(wdl/wdl)

 

Sumber : www.detik.com

Berapa Biaya Pasang Listrik Panel Surya di Atap Rumah?

berapaDana Aditiasari – detikfinance
Selasa, 02/02/2016 08:00 WIB
Jakarta -Seiring perkembangan teknologi, biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau. Dengan biaya yang terjangkau ini, pemasangan panel surya bahkan bisa dilakukan untuk skala rumah tangga.
Berapa biaya pasang panel surya?
Salah satu anggota Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPSLA), Nur Pamudji mengungkapkan, saat ini sudah banyak perusahaan yang menawarkan produk-produk panel surya baik perusahan lokal maupun produsen di luar negeri.
“Biayanya sekitar US$ 1-2 per (Rp 14.000-24.000) Watt Peak (WP). Itu harga alatnya saja, panel surya dengan inverter-nya saja,” ujar Nur kepada detikFinance, Senin (1/2/2016).
Ada pun biaya pemasangan, kata dia, sangat bergantung dengan tingkat kesulitas atap yang akan dipasangi panel surya itu sendiri. Semakin curam posisi atap semakin sulit untuk dipasang.
“Kalau ditotal-total dengan biaya pasangnya sekitar US$ 1,95-2,95 (Rp 27.300-41.300) per WP,” sambung mantan Dirut PLN ini.
Untuk skala rumah tangga, pemasangan panel surya bisa disesuaikan deng kebutuhan listrik harian di masing-masing rumah. Nur Pamudji sendiri mencontohkan, panel surya yang dipasang di rumahnya adalah sekitar 4.000 WP.
“Kebetulan yang saya pakai harganya US$ 1 (Rp 14.000) per WP. Kalau ditambah dengan ongkos pasang jadi sekitar US$ 1,95 per WP. Jadi kalau ditotal 4.000 WP tinggal ditotal saja,” jelas dia.
Dengan perhitungan tersebut, maka total biaya yang dikeluarkan Nur adalah sekitar Rp 109 juta.

sumber : detik.com