Artikel

Dukung Pemerintah, Kelompok Ini Ramai-ramai Pasang Panel Surya di Atap Rumah

Dana Aditiasari – detikfinance
Selasa, 02/02/2016 07:28 WIB

Jakarta -Mendukung upaya pemerintah mencapai kemandirian energi bisa dilakukan lewat berbagai cara. Salah satunya dilakukan sekelompok masyarakat yang menamakan dirinya Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPSLA).

Perkumpulan ini memasang Listrik Surya Atap atau listrik tenaga matahari dengan panel yang ditempatkan di atap rumah mereka masing-masing.

“Pemakaian listrik surya atap ini menjadi bagian dari dukungan usaha mencapai kemandirian energi listrik,” ujar salah satu anggota perkumpulan, Nur Pamudji saat dihubungi detikFinance, Senin (1/2/2016).

Nur Pamudji mengisahkan, perkumpulan ini pertama kali dibentuk sekitar Oktober 2015 lalu. Ia dan beberapa orang teman memulai ide tersebut dengan harapan bisa berkontribusi pada pembangunan negara, dalam hal ini penyediaan listrik.

“Waktu itu saya dan beberapa teman ngobrol lalu bentuk grup whatsapp, apa yang bisa kita lakukan nih. Kemudian ada ide untuk pasang panel surya. Ternyata Pak Bambang (Bambang Sumaryo) yang sekarang jadi ketua perkumpulan, sudah pakai panel surya sejak satu tahun terakhir,” tutur dia.

Berangkat dari sinilah, perkumpulan ini kian serius menjalankan usahanya yang pada akhirnya mendapat dukungan dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM).

Pada Minggu 31 Januari 2016, Menteri ESDM Sudirman Said meresmikan perkumpulan ini sebagai pencetus sosialisasi penggunaan listrik surya atap di tanah air.

“Harapannya semakin banyak orang yang pasang. Semakin banyak juga listrik PLN bisa dihemat,” pungkas dia.

 

Sumber : Detik.com

RI Punya ‘Harta Karun’ Energi 810.000 MW, Baru Dimanfaatkan 1,1%

715c7a14-80af-469e-8111-a9a6f2382771_169

Michael Agustinus – detikfinance
Senin, 15/02/2016 07:15 WIB

Jakarta -Indonesia sangat kaya dengan energi terbarukan di luar energi fosil. Dari dalam bumi, di atas tanah, laut, udara, hingga matahari di langit, semuanya menyimpan ‘harta karun’ energi yang terbarukan, tidak akan habis sepanjang masa.

Menurut perhitungan Kementerian ESDM yang diperoleh detikFinance, total potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia mencapai 810.000 megawatt (MW), tersebar di dalam bumi hingga di atas langit.

Di dalam bumi, Indonesia memiliki potensi energi panas bumi sebesar 29.000 MW. Dari total potensi itu, kapasitas terpasang listrik dari panas bumi baru 1.440 MW atau 5% saja.

Di atas tanah, Indonesia punya harta karun bioenergi sebesar 34.000 MW. Pemanfaatannya sejauh ini baru 1.740 MW atau 5,1%.

Di perairan darat seperti sungai besar, sungai kecil, air terjun ada potensi energi hydro (air) 19.000 MW. Baru 5.250 MW energi hydro saja yang sudah dimanfaatkan.

Kemudian di laut, Indonesia memiliki potensi energi laut hingga 61.000 MW. Baru 0,28 MW atau 0,0005% saja yang dimanfaatkan.

Di udara, ada potensi energi angin yang mencapai 107.000 MW. Saat ini Indonesia baru membuat pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) 3,61 MW alias cuma 0,0034% dari total potensi energi angin.

Lalu dari sinar matahari yang ada sepanjang tahun karena Indonesia tak mengalami musim dingin, ada harta karun sebesar 560.000 MWp. Sejauh ini kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru 70 MWp.

Bila dihitung-hitung, total penggunaan energi terbarukan di Indonesia baru 8.780 MW atau 1,1% dari total potensi sebesar 810.000 MW. Pemanfaatan energi terbarukan belum optimal.

Sementara cadangan energi fosil Indonesia semakin menipis. Cadangan terbukti minyak bumi hanya 3,6 miliar barel, bakal habis dalam 13 tahun lagi dengan asumsi produksi 288 juta barel per tahun. Cadangan terbukti gas bumi saat ini 100,3 TSCF, hanya akan bertahan sampai kurang lebih 34 tahun lagi dengan asumsi produksi 2,97 TSCF per tahun.

Karena itu, harta karun energi terbarukan harus segera dioptimalkan untuk menggantikan energi fosil. Bila terus bergantung pada energi fosil, Indonesia bakal mengalami krisis energi dalam waktu 2-3 dekade mendatang.

(wdl/wdl)

 

Sumber : www.detik.com

Awet 25 Tahun, Panel Surya Tak Perlu Ongkos Perawatan

awet

Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Selasa, 02/02/2016 13:30 WIB

Jakarta -Selain irit, ternyata panel listrik tenaga surya terbilang mudah dalam perawatan. Perawatan bisa dilakukan setiap 6 bulan sekali.

Perawatan sendiri bisa dilakukan oleh pemilik rumah. Caranya, panel surya cukup dibersihkan alias dilap hingga bersih. Alhasil, pengguna panel surya tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk maintenance.

Nggak ada maintenance karena teknologiya sederhana. Panel ditaruh di atap, kemudian 6 bulan sekali dibersihkan. Panel bisa dipasang miring, kalau hujan deras maka dia bersih,” kata Ketua Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA), Bambang Sumaryo kepada detikFinance, Selasa (2/2/2016).

Selain itu, usia teknis peralatan panel surya terbilang cukup panjang. Panel surya dan jaringan yang terpasang memiliki usia teknis sampai 25 tahun.

“Umur teknisnya 25 tahun. Hampir sama dengan usia rumah,” jelasnya.

Sumber : Detik.com

 

Berapa Biaya Pasang Listrik Panel Surya di Atap Rumah?

berapaDana Aditiasari – detikfinance
Selasa, 02/02/2016 08:00 WIB
Jakarta -Seiring perkembangan teknologi, biaya pemasangan panel surya sebagai pembangkit listrik kian terjangkau. Dengan biaya yang terjangkau ini, pemasangan panel surya bahkan bisa dilakukan untuk skala rumah tangga.
Berapa biaya pasang panel surya?
Salah satu anggota Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPSLA), Nur Pamudji mengungkapkan, saat ini sudah banyak perusahaan yang menawarkan produk-produk panel surya baik perusahan lokal maupun produsen di luar negeri.
“Biayanya sekitar US$ 1-2 per (Rp 14.000-24.000) Watt Peak (WP). Itu harga alatnya saja, panel surya dengan inverter-nya saja,” ujar Nur kepada detikFinance, Senin (1/2/2016).
Ada pun biaya pemasangan, kata dia, sangat bergantung dengan tingkat kesulitas atap yang akan dipasangi panel surya itu sendiri. Semakin curam posisi atap semakin sulit untuk dipasang.
“Kalau ditotal-total dengan biaya pasangnya sekitar US$ 1,95-2,95 (Rp 27.300-41.300) per WP,” sambung mantan Dirut PLN ini.
Untuk skala rumah tangga, pemasangan panel surya bisa disesuaikan deng kebutuhan listrik harian di masing-masing rumah. Nur Pamudji sendiri mencontohkan, panel surya yang dipasang di rumahnya adalah sekitar 4.000 WP.
“Kebetulan yang saya pakai harganya US$ 1 (Rp 14.000) per WP. Kalau ditambah dengan ongkos pasang jadi sekitar US$ 1,95 per WP. Jadi kalau ditotal 4.000 WP tinggal ditotal saja,” jelas dia.
Dengan perhitungan tersebut, maka total biaya yang dikeluarkan Nur adalah sekitar Rp 109 juta.

sumber : detik.com

Biaya Pasang Panel Surya di Rumah Rp 100 Jutaan, Tagihan Listrik Hemat 40%

715c7a14-80af-469e-8111-a9a6f2382771_169Dana Aditiasari – detikfinance
Selasa, 02/02/2016 08:58 WIB

Jakarta -Pemasangan panel surya sebagai sumber energi alternatif di tingkat rumah tangga memberi dampak dan manfaat. Yang langsung bisa dirasakan adalah turunnya biaya pemakaian listrik.

“Yang saya rasakan itu penghematan sekitar 40% dibandingkan saya sebelum pasang listrik surya atap ini,” ujar salah satu anggota Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPSLA), Nur Pamudji, saat berbincang dengan detikFinance, Senin (1/2/2016).

“Jadi kalau misalnya tagihan listrik biasanya Rp 1 juta. Sekarang kita cuma bayar Rp 600 ribu,” sambung Nur.

Lebih rendahnya biaya listrik yang harus ditanggung ini, sambung dia, diperoleh dari selisih penggunaan listrik PLN yang digantikan oleh listrik dari panel surya tersebut.

“Jadi saat panel surya ini bekerja, berarti kan kita nggak pakai listrik PLN. Ini yang langsung dipotong oleh PLN, sehingga tarif listrik yang kami bayar juga lebih murah,” tutur Nur yang mantan Dirut PLN ini.

Bagaimana bila terjadi kelebihan produksi listrik yang dihasilkan oleh panel surya ini?

Nur menjelaskan, listrik yang dihasilkan dari panel surya ini sudah bisa masuk ke jaringan listrik milik PLN. Sehingga bila terjadi kelebihan prodiksi maka akan secara otomatis dialirkan ke jaringan listrik milik PLN.

Setiap volt listrik yang yang masuk ke jaringan miliki PLN akan dihitung sebagai potongan pemakaian.

“Misalnya kelebihan produksi 20 KwH, berarti nanti catatan pemakaiannya secara otomatis akan dipotong 20 volt. Jadi biaya pemakaian listrik yang harus dibayarkan juga bisa lebih rendah,” tutur dia.

Dari hasil penghematan tersebut, bila dihitung maka dapat mengembalikan biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli dan memasang panel surya tersebut.

“Hitung-hitungannya bisa kembali modal dalam 8 tahun,” pungkas dia.

sumber : detik.com

Pakai Panel Surya Rp 150 Jutaan, Komisaris BUMN Ini Ingin Hemat Listrik

e5c9f643-3f3a-4081-982a-4575a4c0fba1_169

Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Selasa, 02/02/2016 17:34 WIB

Jakarta -Petinggi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mulai melirik penggunaan panel listrik tenaga surya. Salah satunya ialah Komisaris PT Telkom Tbk (TLKM), Rinaldi Firmansyah.

Rinaldi mengaku sejak Desember 2015, telah memasang peralatan panel surya berkapasitas 10.000 Watt Peak (WP) di kediamannya. Untuk memasang sistem panel surya tersebut, Rinaldi merogoh kocek sekitar Rp 150 juta.

“Di atas Rp 150 jutaan,” kata Rinaldi kepada detikFinance, Selasa (2/2/2016).

Rinaldi mengaku ditawari rekannya untuk memasang panel surya. Setelah dihitung, panel surya ternyata memiliki berbagai manfaat.

Solar cell bisa dipakai 20 tahun dan bisa hemat pembayaran listrik, sebetulnya dihitung nggak jelek-jelek juga. Misal ada mau investasi, ini payback period di bawah 10 tahun,” ujarnya.

Jaringan listrik surya ini, lanjut Rinaldi, praktis bebas biaya perawatan, apalagi saat musim hujan.

Nggak ada spesial maintenance, apalagi saat musim hujan nggak perlu perawatan. Ini (permukaan panel yang kotor) sudah disapu hujan,” jelasnya.

Jaringan listrik surya dan listrik PLN di rumahnya saat ini sudah terkoneksi. Bila ada kelebihan pasokan listrik surya maka surplusnya akan dikirim ke jaringan listrik PLN, sebaliknya, jaringan listrik PLN akan memasok bila listrik surya mengalami defisit.

Meski belum merasakan penghematan karena koneksi jaringan surya dan PLN baru tersambung 2 minggu terakhir, Ia memperoleh cerita dari rekan-rekannya bila ada penghematan konsumsi listrik.

“Beberapa teman sudah dulu pakai, sudah merasakan penghematan. Saya sendiri kelihatan nunggu sebulan lagi tetapi meterannya berputar lebih pelan,” sebutnya.

(feb/hns)

Sumber : www.detik.com

  • 1
  • 2